SEKALI LAGI MELIHAT JIN
Pertanyaan: Assalamu alaikum. Pak Kyai mau nanya: Ada seorang temanku bisa melihat makhluk ghaib memang dari kecil tanpa ia mengamal-amal tertentu. Hal tersebut muncul dengan sendirinya. Saat ini dia bingung karena ada salah satu pendapat dari seorang tokoh Ulama masjid bahwa selepas wafatnya para nabi dan selain Wali Allah (orang saleh) tidak ada manusia biasa yang bisa melihat golongan gaib (jin), jika pun ada hal tersebut dikatakan sebagai sihir atau menggunakan kekuatan Jin itu sendiri sedang hal tersebut haram. Karena menurut teman saya belum layak ia dikatakan sebagai orang saleh karena ia bisa melihat dari golongan Jin. Apakah yang dialami teman kami hanya tipu daya dari Syetan ataukah ada referensi menurut pandangan Islam yang bisa kami tahu mengenai hal tersebut pak Kyai?. (BBM Dobie Kamis 10 Oktober 2013).
Jawaban: Wa’alaikumus salam wrwb. Dapat kami jelaskan sebagai berikut:
Pertama, Menurut asalnya makhluk Jin memang tidak dapat dilihat manusia. Tetapi dalam kenyataannya banyak manusia yang pernah atau bahkan terbiasa melihat Jin. Di antara mereka yang pernah melihat Jin adalah:
· Nabi Adam AS dan isterinya.
Al Qur’an menceritakan bagaimana Iblis dapat bergaul bahkan memperdaya Adam dan Istrinya. Iblis itu adalah dari golongan Jin. Al Qur’an menyebutkan:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا (الكهف:50)
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim” (Al Kahfi: 50).
· Nabi Ibrahim AS.
Telah diketahui secara umum bahwa Ibadah 3 Jumrah (melempar batu) dalam ibadah haji merupakan gambaran apa yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yaitu ketika mendapat perintah menyembelih Nabi Isma’il. Diceritakan bahwa ketika penyembelihan akan dilakukan, tiba tiba Syetan (Jin) datang hendak menggagalkan. Ketika itulah keluarga Ibrahim (Ibrahim< Hajar dan Isma’il) melempari Jin tadi dengan batu.
· Nabi Sulaiman AS.
Al Qur’an menceritakan:
وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ . يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آَلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ (سبا:12-13)
Artinya: “Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih” (Saba: 12-13).
· Nabi kita Muhammad SAW.
Dalam sebuah Hadis diceritakan:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الْجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَىَّ الْبَارِحَةَ - أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا - لِيَقْطَعَ عَلَىَّ الصَّلاَةَ ، فَأَمْكَنَنِى اللَّهُ مِنْهُ وَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِى الْمَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِى سُلَيْمَانَ رَبِّ هَبْ لِى مُلْكًا لاَ يَنْبَغِى لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِى » . (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Tadi malam ada seorang Ifrit dari golongan Jin menggangguku dengan tujuan memutuskan shalatku. Allah memberikan kekuatan kepadaku untuk menguasainya dan aku sempat ingin mengikatnya di tiang-tiang Masjid hingga pagi hingga kalian dapat menyaksikannya. Aku teringat ucapan Sulaiman, “Ya Tuhanku, berilah aku kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia pun setelahku” (HR Al Bukhari dan Muslim).
· Sahabat Abu Hurairah RA.
Dalam sebuah Hadis disebutkan:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِى آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَصَّ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . وَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ » . (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Abu Hurairah RA berkata: “Rasulullah SAW menugaskan aku menjaga zakat Ramadhan. Tiba-tiba ada seseorang datang hendak mencuri makanan itu. Aku menangkapnya dan aku katakan kepadanya; “Sungguh, aku akan melaporkan kamu kepada Rasulullah SAW”. Orang itu berkata: “Jika engkau merebahkan badanmu di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi, niscaya akan ada seorang penjaga dari sisi Allah yang menjagamu sehingga tak ada Syetan yang berani menghampirimu sampai pagi”. Ketika mendapat laporan ini Nabi SAW bersabda: “Orang itu bicara benar kepadamu padahal ia adalah seorang pembohong. Dia adalah Syetan” (HR Al Bukhari).
Kedua, para Ulama menetapkan bahwa melihat Jin merupakan sesuatu yang mungkin, bukan mustahil. Berdasarkan fakta-fakta di atas, salah seorang Ulama bermadzhab Hanbali, Ibnu Taimiyah diberitakan:
سُئِلَ الشَّيْخُ - رَحِمَهُ اللَّهُ - :عَنْ قَوْله تَعَالَى { إنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ } الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ . هَلْ ذَلِكَ عَامٌّ لَا يَرَاهُمْ أَحَدٌ أَمْ يَرَاهُمْ بَعْضُ النَّاسِ دُونَ بَعْضٍ ؟ وَهَلْ الْجِنُّ وَالشَّيَاطِينُ جِنْسٌ وَاحِدٌ وَلَدُ إبْلِيسَ أَمْ جِنْسَيْنِ : وَلَدُ إبْلِيسَ وَغَيْرُ وَلَدِهِ ؟ .
Artinya: “Syekh Ibnu Taimiyah ditanya tentang firman Allah “Sesungguhnya ia (Syetan) dan golongannya dapat melihat kamu dari sisi yang kamu tidak dapat melihat mereka” (Al A’raf:27), apakah hal tersebut bersifat umum di mana tak ada seorang manusia pun dapat melihat Jin ataukah sebagian dapat melihat dan sebagian lain tidak melihat?”. Dan apakah Jin dan Syetan-syetan itu merupakan satu jenis sebagai anak Iblis ataukah dua jenis yang berbeda yaitu yang satu anak Iblis dan yang lain bukan anak Iblis?
Mendapat pertanyaan seperti ini Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjawab:
الْحَمْدُ لِلَّهِ ، الَّذِي فِي الْقُرْآنِ أَنَّهُمْ يَرَوْنَ الْإِنْسَ مِنْ حَيْثُ لَا يَرَاهُمْ الْإِنْسُ وَهَذَا حَقٌّ يَقْتَضِي أَنَّهُمْ يَرَوْنَ الْإِنْسَ فِي حَالٍ لَا يَرَاهُمْ الْإِنْسُ فِيهَا وَلَيْسَ فِيهِ أَنَّهُمْ لَا يَرَاهُمْ أَحَدٌ مِنْ الْإِنْسِ بِحَالِ ؛ بَلْ قَدْ يَرَاهُمْ الصَّالِحُونَ وَغَيْرُ الصَّالِحِينَ أَيْضًا ؛ لَكِنْ لَا يَرَوْنَهُمْ فِي كُلِّ حَالٍ وَالشَّيَاطِينُ هُمْ مَرَدَةُ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ وَجَمِيعُ الْجِنِّ وَلَدُ إبْلِيسَ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .
Artinya: “Segala puji bagi Allah. Yang terdapat di dalam Al Qur’an itu adalah pernyataan bahwasanya golongan Jin dapat melihat manusia dari sisi manusia tak dapat melihat mereka. Ini benar di mana Jin dapat melihat manusia, bukan dikatakan bahwa tidak ada satu orang pun manusia yang dapat melihat mereka sama sekali. Bahkan terkadang dapat pula Jin dilihat baik oleh orang saleh maupun bukan orang saleh, hanya saja manusia tidak dapat melihat mereka di segala keadaan. Adapun Syetan itu adalah orang-orang jahat dari golongan manusia dan Jin. Sedangkan seluruh Jin merupakan keturunan Iblis. Wallahu A’lam” (Lihat Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah Juz 8 halaman 8)
Ketiga, telah diketahui secara umum bahwa di antara manusia terdapat sejumlah orang yang oleh Allah diberi kemampuan melihat Jin dalam segala keadaan, bahkan sejak kecil. Mereka disebut sebagai orang-orang Indiego dan kini telah ada komunitasnya sendiri. Kemampuan itu bukan mereka peroleh dari berlatih atau berguru, melainkan pembawaan.
Berkenaan dengan Ulama (?) yang anda katakan itu bisa jadi mengikuti madzhab Mu’tazilah atau tidak pernah membaca buku-buku modern atau menyaksikan warta Televisi. Jadi harap maklum saja. Dan tuduhannya bahwa orang yang melihat Jin bekerjasama dengan Jin, biarlah itu urusan dia dengan Allah dan orang-orang yang difitnahnya. Hasbunallah.
Syarif Rahmat RA
Pertanyaan: Assalamu alaikum. Pak Kyai mau nanya: Ada seorang temanku bisa melihat makhluk ghaib memang dari kecil tanpa ia mengamal-amal tertentu. Hal tersebut muncul dengan sendirinya. Saat ini dia bingung karena ada salah satu pendapat dari seorang tokoh Ulama masjid bahwa selepas wafatnya para nabi dan selain Wali Allah (orang saleh) tidak ada manusia biasa yang bisa melihat golongan gaib (jin), jika pun ada hal tersebut dikatakan sebagai sihir atau menggunakan kekuatan Jin itu sendiri sedang hal tersebut haram. Karena menurut teman saya belum layak ia dikatakan sebagai orang saleh karena ia bisa melihat dari golongan Jin. Apakah yang dialami teman kami hanya tipu daya dari Syetan ataukah ada referensi menurut pandangan Islam yang bisa kami tahu mengenai hal tersebut pak Kyai?. (BBM Dobie Kamis 10 Oktober 2013).
Jawaban: Wa’alaikumus salam wrwb. Dapat kami jelaskan sebagai berikut:
Pertama, Menurut asalnya makhluk Jin memang tidak dapat dilihat manusia. Tetapi dalam kenyataannya banyak manusia yang pernah atau bahkan terbiasa melihat Jin. Di antara mereka yang pernah melihat Jin adalah:
· Nabi Adam AS dan isterinya.
Al Qur’an menceritakan bagaimana Iblis dapat bergaul bahkan memperdaya Adam dan Istrinya. Iblis itu adalah dari golongan Jin. Al Qur’an menyebutkan:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا (الكهف:50)
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim” (Al Kahfi: 50).
· Nabi Ibrahim AS.
Telah diketahui secara umum bahwa Ibadah 3 Jumrah (melempar batu) dalam ibadah haji merupakan gambaran apa yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yaitu ketika mendapat perintah menyembelih Nabi Isma’il. Diceritakan bahwa ketika penyembelihan akan dilakukan, tiba tiba Syetan (Jin) datang hendak menggagalkan. Ketika itulah keluarga Ibrahim (Ibrahim< Hajar dan Isma’il) melempari Jin tadi dengan batu.
· Nabi Sulaiman AS.
Al Qur’an menceritakan:
وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ . يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آَلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ (سبا:12-13)
Artinya: “Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih” (Saba: 12-13).
· Nabi kita Muhammad SAW.
Dalam sebuah Hadis diceritakan:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الْجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَىَّ الْبَارِحَةَ - أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا - لِيَقْطَعَ عَلَىَّ الصَّلاَةَ ، فَأَمْكَنَنِى اللَّهُ مِنْهُ وَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِى الْمَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِى سُلَيْمَانَ رَبِّ هَبْ لِى مُلْكًا لاَ يَنْبَغِى لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِى » . (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Tadi malam ada seorang Ifrit dari golongan Jin menggangguku dengan tujuan memutuskan shalatku. Allah memberikan kekuatan kepadaku untuk menguasainya dan aku sempat ingin mengikatnya di tiang-tiang Masjid hingga pagi hingga kalian dapat menyaksikannya. Aku teringat ucapan Sulaiman, “Ya Tuhanku, berilah aku kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia pun setelahku” (HR Al Bukhari dan Muslim).
· Sahabat Abu Hurairah RA.
Dalam sebuah Hadis disebutkan:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِى آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَصَّ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . وَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ » . (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Abu Hurairah RA berkata: “Rasulullah SAW menugaskan aku menjaga zakat Ramadhan. Tiba-tiba ada seseorang datang hendak mencuri makanan itu. Aku menangkapnya dan aku katakan kepadanya; “Sungguh, aku akan melaporkan kamu kepada Rasulullah SAW”. Orang itu berkata: “Jika engkau merebahkan badanmu di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi, niscaya akan ada seorang penjaga dari sisi Allah yang menjagamu sehingga tak ada Syetan yang berani menghampirimu sampai pagi”. Ketika mendapat laporan ini Nabi SAW bersabda: “Orang itu bicara benar kepadamu padahal ia adalah seorang pembohong. Dia adalah Syetan” (HR Al Bukhari).
Kedua, para Ulama menetapkan bahwa melihat Jin merupakan sesuatu yang mungkin, bukan mustahil. Berdasarkan fakta-fakta di atas, salah seorang Ulama bermadzhab Hanbali, Ibnu Taimiyah diberitakan:
سُئِلَ الشَّيْخُ - رَحِمَهُ اللَّهُ - :عَنْ قَوْله تَعَالَى { إنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ } الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ . هَلْ ذَلِكَ عَامٌّ لَا يَرَاهُمْ أَحَدٌ أَمْ يَرَاهُمْ بَعْضُ النَّاسِ دُونَ بَعْضٍ ؟ وَهَلْ الْجِنُّ وَالشَّيَاطِينُ جِنْسٌ وَاحِدٌ وَلَدُ إبْلِيسَ أَمْ جِنْسَيْنِ : وَلَدُ إبْلِيسَ وَغَيْرُ وَلَدِهِ ؟ .
Artinya: “Syekh Ibnu Taimiyah ditanya tentang firman Allah “Sesungguhnya ia (Syetan) dan golongannya dapat melihat kamu dari sisi yang kamu tidak dapat melihat mereka” (Al A’raf:27), apakah hal tersebut bersifat umum di mana tak ada seorang manusia pun dapat melihat Jin ataukah sebagian dapat melihat dan sebagian lain tidak melihat?”. Dan apakah Jin dan Syetan-syetan itu merupakan satu jenis sebagai anak Iblis ataukah dua jenis yang berbeda yaitu yang satu anak Iblis dan yang lain bukan anak Iblis?
Mendapat pertanyaan seperti ini Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjawab:
الْحَمْدُ لِلَّهِ ، الَّذِي فِي الْقُرْآنِ أَنَّهُمْ يَرَوْنَ الْإِنْسَ مِنْ حَيْثُ لَا يَرَاهُمْ الْإِنْسُ وَهَذَا حَقٌّ يَقْتَضِي أَنَّهُمْ يَرَوْنَ الْإِنْسَ فِي حَالٍ لَا يَرَاهُمْ الْإِنْسُ فِيهَا وَلَيْسَ فِيهِ أَنَّهُمْ لَا يَرَاهُمْ أَحَدٌ مِنْ الْإِنْسِ بِحَالِ ؛ بَلْ قَدْ يَرَاهُمْ الصَّالِحُونَ وَغَيْرُ الصَّالِحِينَ أَيْضًا ؛ لَكِنْ لَا يَرَوْنَهُمْ فِي كُلِّ حَالٍ وَالشَّيَاطِينُ هُمْ مَرَدَةُ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ وَجَمِيعُ الْجِنِّ وَلَدُ إبْلِيسَ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .
Artinya: “Segala puji bagi Allah. Yang terdapat di dalam Al Qur’an itu adalah pernyataan bahwasanya golongan Jin dapat melihat manusia dari sisi manusia tak dapat melihat mereka. Ini benar di mana Jin dapat melihat manusia, bukan dikatakan bahwa tidak ada satu orang pun manusia yang dapat melihat mereka sama sekali. Bahkan terkadang dapat pula Jin dilihat baik oleh orang saleh maupun bukan orang saleh, hanya saja manusia tidak dapat melihat mereka di segala keadaan. Adapun Syetan itu adalah orang-orang jahat dari golongan manusia dan Jin. Sedangkan seluruh Jin merupakan keturunan Iblis. Wallahu A’lam” (Lihat Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah Juz 8 halaman 8)
Ketiga, telah diketahui secara umum bahwa di antara manusia terdapat sejumlah orang yang oleh Allah diberi kemampuan melihat Jin dalam segala keadaan, bahkan sejak kecil. Mereka disebut sebagai orang-orang Indiego dan kini telah ada komunitasnya sendiri. Kemampuan itu bukan mereka peroleh dari berlatih atau berguru, melainkan pembawaan.
Berkenaan dengan Ulama (?) yang anda katakan itu bisa jadi mengikuti madzhab Mu’tazilah atau tidak pernah membaca buku-buku modern atau menyaksikan warta Televisi. Jadi harap maklum saja. Dan tuduhannya bahwa orang yang melihat Jin bekerjasama dengan Jin, biarlah itu urusan dia dengan Allah dan orang-orang yang difitnahnya. Hasbunallah.
Syarif Rahmat RA
Diambl dari Buletin Qum Edisi 631